Author : Yati Soenarto, Djaswadi Dasuki, Retna Siwi Padmawati, Lina Kurniawati, Solichin

Abstract :
Pemberian air susu ibu (ASI) sangat penting bagi bayi dan anak berumur kurang dari dua tahun terutama karena ASI mengandung lemak acids, laktosa, air, dan amino acids, serta memenuhi kebutuhan total metabolis anak selama empat bulan sampai enam bulan pertama kehidupannya (WHO/UNICEF 1989). ASI mengandung anti infeksi dan anti alergi, serta menimbulkan keterikatan emosi yang kuat antara ibu dan anaknya (Cameron and Hofvander 1983 dalam Nordenhall and Ramberg 1997; Wiharta 1992). Pada bayi dan anak penderita diare kronik, pemberian ASI dapat menyebabkan diare lebih cepat berhenti; menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih baik terutama ada bayi umur kurang dari 6 bulan; lama perawatan lebih singkat; dan angka kematian lebih rendah (Suharyono 1992). Selain itu pemberian ASI sedini mungkin (2-8 jam setelah lahir) akan mengurangi gangguan pencernaan dan penyakit lain, serta dapat menurunkan angka kematian. Sedangkan bagi ibu bersalin, menyusui atau memberi ASI akan mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Dengan keunggulan tersebut, WHO menganjurkan bahwa semua bayi diberi ASI secara ekslusif selama tiga bulan pertama kehidupannya, dan baru dikenalkan dengan makanan tambahan pada umur empat sampai enam bulan.

Di Indonesia, pemberian ASI eksklusif bagi bayi berumur 0-4 tahun sudah dicanangkan kurang lebih sejak 20 tahun yang lalu. Departemen Kesehatan RI menargetkan bahwa pada tahun 1991, ASI eksklusif dapat mencapai angka 54%. Namun demikian, menurut survai nasional demografi, angka tersebut baru mencapai 47% pada tahun 1994. Penelitian oleh Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat (LPKGM), Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, yang diterapkan pada 466 ibu di Kabupaten Purworejo bahkan menunjukkan bahwa ASI eksklusif hanya mencapai 31% pada bayi berumur kurang dari 120 hari. Praktek pemberian ASI dini, yaitu pada satu jam setelah melahirkan, juga sangat rendah atau hanya mencapai 6,6% (Suryono, 1997). Menurut Suryono (Suryono, 1997), penyebab tersering rendahnya angka pemberian ASI eksklusif ini adalah faktor psikososial dan perilaku ibu dan keluarga, serta faktor lingkungan. Faktor psikososial dan perilaku seperti kurangnya pengertian mengenai manfaat menyusui eksklusif serta iklan yang berlebihan mengenai susu dan makanan buatan menimbulkan persepsi yang tidak benar atau menimbulkan persepsi bahwa menyusui eksklusif menyebabkan bayi kurang makan.

PDF Format, Download here!

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.