Oleh: Anggriyani Pinandari , Siswanto Wilopo, Robert Magnani, Amirah Wahdi, Karina Puspitasari

Partisipasi Indonesia dalam komitmen keluarga berencana global diluncurkan pada the London Summit 2012. Dengan target utama menyediakan metode keluarga berencana untuk 120 juta wanita usia subur di dunia dan mencapai 17 indikator terkait pada tahun 2020. Untuk memastikan kontribusi Indonesia terhadap target tersebut, pemerintah membuat 8 target indikator keluarga berencana melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Indonesia juga berkomitmen untuk menjaga investasi untuk program pembiayaan KB, termasuk merealokasikan sumber daya ke area yang paling padat penduduk dan pulai kecil. Negara akan memperluas akses dan pilihan dengan memperkuat pelayanan klinik umum dan swasta dan menyediakan metode jangka panjang dan aman, termasuk program KB post-partum.

Indonesia sedang mengalami transisi demografi kedua yang dikarakterisasi dengan meningkatnya jumlag usia produktif dan subur. Era ini ditandai dengan perubahan pola seksual dan reproduksi, seperti meningkatnya hubungan seksual sebelum menikah dan kehamilan tidak diinginkan. Hal ini menjadi tantangan untuk program keluarga berencana dalam menjamin kontrol terhadap pertumbuhan populasi dan pemenuhan kebutuhan kontrasepsi. Dalam RPJMN 2015-2019 pemerintah mentargetkan TFR menurun ke angka 2.28 (lihat tabel 1). Dimana kita perlu meningkatkan jumlah pengguna kontrasepsi terutama untuk metode modern.

Indonesia mempunyai pengumpulan data setiap tahun untuk mencatat kemajuan dari indikator RPJM, tetapi tidak untuk FP2020. Di tahun 2015, PMA2020 pertama dilakukan untuk mengisi kebutuhan tersebut dan memberikan lintasan dari tiap indikator menuju 2020. Analisis ini ditujukan untuk menunjukkan perkembangan saat ini dan profil indikator keluarga berencana Indonesia dengan meletakkan hasil dari round 1 PMA2020 tahun 2015 dan data yang tersedia lainnya.

Read More …

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.